Tobrut : Gaya Hidup Sok Kuat yang Menyesatkan
Di balik layar media sosial, muncul sosok-sosok yang bangga menyebut diri mereka “Tobrut” singkatan dari “toxic brutal”. Kata ini kerap digunakan sebagai identitas kebanggaan seseorang yang blak-blakan, tidak peduli pendapat orang lain, dan selalu ingin tampil beda. Namun, benarkah sikap “tobrut” adalah bentuk keberanian? Atau justru topeng dari luka yang belum sembuh?
Fenomena ini berawal dari keinginan untuk tampil kuat dan tangguh. Tapi dalam praktiknya, “tobrut” justru melahirkan pola perilaku yang merugikan. Komentar pedas dibungkus dengan dalih kejujuran, ketidaksopanan dianggap spontanitas, dan ketidakpedulian dijadikan simbol kebebasan. Semua itu menciptakan ruang baru yang meromantisasi sifat buruk dengan dalih “inilah aku, kalau nggak suka ya minggir.”
Sayangnya, sikap ini mudah sekali ditiru, terutama oleh generasi muda yang sedang mencari jati diri. Mereka mengira bahwa semakin sarkastik, semakin nyinyir, semakin “asik”. Padahal yang terjadi adalah pembiasaan terhadap toxic behavior yang merusak hubungan sosial, menumpulkan empati, dan mematikan rasa tanggung jawab.
Sikap tobrut seringkali lahir dari luka: dikecewakan, diremehkan, atau tidak mendapat ruang untuk didengar. Namun alih-alih sembuh, luka itu berubah menjadi tameng untuk melukai orang lain. Mereka memilih bersikap dingin dan brutal agar tampak tidak tersentuh, padahal dalam hati sedang menjerit meminta perhatian.
Perilaku seperti ini sangat berisiko jika dibiarkan tanpa kontrol. Lingkungan sosial bisa menjadi keras, penuh sindiran, minim empati, dan serba defensif. Orang tidak lagi saling memahami, tapi saling menyerang. Bahkan yang dulunya lembut bisa ikut berubah karena terbawa arus “tobrut culture” yang sedang naik daun.
Sudah saatnya kita sadar bahwa jadi keras bukan berarti kuat, dan bersikap cuek bukan tanda mandiri. Keberanian sejati adalah mampu berkata jujur tanpa menyakiti, mampu beda tanpa menyingkirkan, dan mampu kuat tanpa kehilangan sisi manusiawi.
Kita boleh jadi diri sendiri, tapi jangan sampai jadi orang yang tak bisa dikritik. Dunia tak butuh lebih banyak orang tobrut dunia butuh lebih banyak orang sadar diri.