Tobrut: Ketika Kebebasan Menyimpang dari Arah
Di zaman serba digital, kita akrab dengan istilah dan tren yang bermunculan dari internet—salah satunya adalah Tobrut. Sekilas terdengar lucu dan nyentrik, tapi di balik kata itu tersimpan sebuah fenomena sosial yang cukup mengkhawatirkan. Tobrut sering dijadikan simbol kebebasan berperilaku, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain atau lingkungan sekitar.
Orang yang mengaku “Tobrut” biasanya ingin tampil apa adanya, tanpa basa-basi, tanpa peduli norma, dan bahkan merasa bangga saat berbeda dari yang lain. Mereka menolak kritik, alergi terhadap nasihat, dan seringkali menutupi kekurangan diri dengan tameng “inilah aku, suka-suka aku.” Padahal, jadi diri sendiri bukan berarti bebas menyakiti atau mengabaikan nilai-nilai sosial.
Tindakan yang dibungkus dengan embel-embel kejujuran kadang hanyalah cara halus untuk membenarkan sikap kasar dan egois. Mengucapkan sesuatu secara blak-blakan bukan berarti kamu kuat, tapi bisa jadi kamu sedang menormalisasi perilaku yang tidak sehat. Misalnya, berkata jujur tanpa memikirkan perasaan orang lain, atau menolak semua bentuk perubahan karena merasa paling benar.
Dalam praktiknya, tobrut sering berkembang menjadi bentuk pembangkangan halus terhadap tanggung jawab, baik di rumah, sekolah, bahkan tempat kerja. Anak muda yang menolak aturan, malas berkembang, atau ogah belajar hal baru bisa dengan mudah bersembunyi di balik sikap tobrut. Ini bukan tentang ekspresi diri yang sehat, melainkan bentuk penolakan terhadap proses tumbuh dewasa.
Tak jarang, gaya hidup seperti ini malah menciptakan ruang-ruang toxic yang meracuni hubungan sosial. Konten-konten “asal bacot”, komentar nyinyir, dan gaya hidup sarkas yang dibanggakan bisa menular. Orang jadi berlomba-lomba untuk tampil “tidak peduli” sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah dukungan dan arah hidup yang sehat.
Menjadi berbeda itu wajar, bahkan bagus. Tapi jangan sampai perbedaan dijadikan alasan untuk lari dari tanggung jawab atau menolak kebaikan. Kita butuh kebebasan, tapi kebebasan tanpa arah hanyalah kekacauan yang ditunda.
Generasi digital harus mulai menyaring mana yang benar-benar “jadi diri sendiri”, dan mana yang hanya topeng dari luka batin atau rasa malas untuk berkembang. Berani berbeda bukan soal siapa paling keras atau paling nyeleneh, tapi siapa yang bisa tumbuh dengan cara yang sehat tanpa kehilangan esensi dirinya.
Posting Komentar