BMI kalkulator biasanya baru dicari saat ingin menurunkan berat badan. Padahal, ada alasan lain yang bikin seseorang mulai lebih memperhatikan kondisi tubuh. Salah satunya adalah ketika aktivitas yang dulu terasa biasa saja sekarang malah bikin cepat capek.
Naik tangga dua lantai mulai ngos-ngosan. Jalan agak jauh, rasanya ingin cepat duduk. Bahkan, membawa belanjaan dari parkiran saja sudah terasa seperti olahraga.
Kalau pernah mengalaminya, jangan langsung menyalahkan usia. Bisa jadi sudah waktunya melihat kembali kondisi tubuh dan kebiasaan sehari-hari.
Berat Bukan Segalanya
Banyak orang merasa kondisi tubuhnya baik-baik saja selama berat badannya tidak banyak berubah. Angka di timbangan masih mirip dengan tahun lalu, pakaian masih muat, dan secara penampilan juga tidak ada perubahan besar. Masalahnya, kebugaran tidak hanya ditentukan oleh berat badan.
Seseorang bisa memiliki berat yang relatif sama, tetapi aktivitas fisiknya jauh berkurang. Misalnya, karena lebih sering duduk bekerja, menggunakan kendaraan ke mana-mana, atau sudah lama tidak berolahraga.
Akibatnya, stamina bisa menurun meskipun angka timbangan terlihat biasa saja.
Coba cek BMI dulu
Kalau sudah lama tidak memperhatikan kondisi tubuh, mengecek BMI bisa menjadi langkah sederhana untuk memulainya. BMI melihat hubungan antara berat dan tinggi badan. Hasilnya dapat memberikan gambaran awal mengenai kategori berat badan.
Tidak perlu menghitung secara manual. BMI kalkulator bisa membantu mendapatkan hasil dengan memasukkan tinggi dan berat badan. Namun, jangan menganggap hasilnya sebagai nilai rapor kesehatan. BMI hanya salah satu indikator. Kondisi tubuh tetap perlu dilihat bersama kebiasaan makan, aktivitas fisik, stamina, dan faktor lainnya.
Kok Sekarang Cepat Capek?
Kadang penyebabnya sederhana: tubuh sudah terlalu terbiasa tidak banyak bergerak. Bayangkan rutinitas sehari-hari. Bangun tidur, duduk saat sarapan, duduk di kendaraan, lalu duduk berjam-jam di depan laptop. Setelah pulang, waktunya kembali duduk sambil menonton film atau menyimak media sosial.
Dalam satu hari, kesempatan untuk benar-benar aktif akhirnya sangat sedikit. Rutinitas seperti ini bisa terjadi selama berbulan-bulan tanpa terasa.
Baru ketika harus berjalan jauh atau naik tangga, tubuh seperti memberikan pengingat bahwa stamina sudah tidak seperti dulu.
Jangan Salahkan Umur Terus
“Kayaknya memang sudah umur.”
Kalimat seperti ini gampang sekali muncul ketika badan mulai terasa berbeda. Memang, kemampuan tubuh dapat berubah seiring waktu. Namun, usia bukan alasan untuk berhenti aktif. Justru kebiasaan bergerak perlu tetap dijaga.
Tidak harus langsung melakukan latihan berat. Berjalan kaki lebih sering, menggunakan tangga, atau kembali berolahraga beberapa kali seminggu sudah bisa menjadi awal.
Yang penting, tubuh kembali terbiasa bergerak secara rutin.
Kurus Belum Tentu Bugar
Ada anggapan bahwa orang yang terlihat kurus otomatis lebih bugar. Padahal, penampilan tidak bisa menunjukkan kemampuan tubuh saat melakukan aktivitas fisik. Seseorang bisa terlihat ramping tetapi jarang berolahraga. Ketika harus jogging atau mengikuti latihan yang cukup intens, staminanya belum tentu lebih baik.
Sebaliknya, seseorang dengan tubuh lebih berisi bisa saja rutin berolahraga dan memiliki stamina yang bagus. Karena itu, jangan hanya menilai kebugaran dari bentuk tubuh. Hasil kalkulator BMI juga sebaiknya tidak berdiri sendiri. Perhatikan kemampuan tubuh untuk bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Tes dari Aktivitas Harian
Tidak perlu menunggu untuk mengikuti kompetisi lari untuk mengetahui apakah tubuh mulai kurang aktif. Aktivitas sehari-hari saja sudah bisa memberikan banyak petunjuk. Coba perhatikan apa yang dirasakan setelah naik tangga, berjalan dari parkiran, atau membawa barang belanjaan.
Apakah napas terasa jauh lebih berat dari biasanya? Apakah tubuh cepat ingin beristirahat?
Perhatikan juga perubahan dalam beberapa bulan terakhir. Jika aktivitas yang sebelumnya mudah mulai terasa berat, mungkin sudah waktunya memberikan tubuh lebih banyak kesempatan untuk bergerak.
Mulai dari yang Ringan
Semangat kembali berolahraga terkadang membuat seseorang langsung ingin berlatih setiap hari. Hari pertama treadmill. Besok latihan kaki. Lusa ikut kelas. Akhir pekan masih ingin berolahraga lagi.
Masalahnya, rutinitas seperti itu belum tentu bertahan lama. Setelah beberapa minggu, tubuh dan jadwal mulai kewalahan. Akhirnya olahraga kembali ditinggalkan. Lebih baik mulai dengan target yang realistis.
Dua atau tiga sesi olahraga dalam seminggu sudah bisa menjadi permulaan. Setelah terbiasa, frekuensi dan intensitas latihan dapat ditambah secara bertahap.
Cari Latihan yang Seru
Olahraga tidak harus terasa seperti kewajiban. Kalau treadmill membosankan, coba latihan kekuatan. Kalau latihan sendiri membuat cepat kehilangan motivasi, kelas olahraga bisa menjadi alternatif.
Ada orang yang lebih menikmati latihan singkat tetapi intens. Ada juga yang lebih suka olahraga dengan tempo santai. Tidak ada satu jenis latihan yang cocok untuk semua orang.
FIT HUB menyediakan berbagai fasilitas dan pilihan latihan yang bisa disesuaikan dengan tujuan dan gaya olahraga masing-masing.
Menemukan aktivitas yang terasa menyenangkan bisa membuat rutinitas lebih mudah dipertahankan.
Jangan Tunggu Berat Naik
Memperhatikan kondisi tubuh tidak harus menunggu angka timbangan berubah drastis. Berat badan hanyalah salah satu petunjuk.
Sesekali gunakan BMI kalkulator untuk mendapatkan gambaran mengenai berat dan tinggi badan. Setelah itu, lihat juga bagaimana tubuh terasa saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Kalau naik tangga saja sudah mulai terasa seperti mendaki gunung, mungkin masalahnya bukan sekadar angka di timbangan. Bisa jadi tubuh cuma sedang minta diajak bergerak lagi.
